Jumat, 04 Februari 2011

Mitigasi Bencana di Rahtawu

Filled under:

Oleh Mochamad Widjanarko

ADA longsor lagi di Desa Rahtawu. Tidak ada korban jiwa tetapi material longsoran menimpa rumah mengakibatkan bangunan rusak parah, tidak bisa dihuni lagi.

Kejadian ini sudah kesekian kali melanda desa di kawasan pegunungan Muria, Kabupaten Kudus, itu. Manusia tidak dapat melepaskan kehidupan dari lingkungan sekitar dan hubungan ini menunjukkan ada suatu ekosistem. Manusia membutuhkan lingkungan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup, demikian pula lingkungan membutuhkan campur tangan manusia agar dapat terpelihara.

Beberapa pengalihan persawahan menjadi kawasan perumahan, telah menggusur para pemilik sawah dan petani penggarap, dan dampak yang ditimbulkan juga akan berantai. Ekosistem terganggu, mata pencaharian penduduk asal hilang, areal hijau berkurang, dan sebagainya.

Perubahan yang dilakukan manusia terhadap lingkungan, banyak yang pada akhirnya bersifat tidak mendukung bagi kondisi biologis, sosiologis, dan psikologis manusia (Notosoedirdjo dan Latipun, 2001). Hal ini dapat terjadi karena kondisi alam yang terjadi berada di luar batas-batas ambang toleransi kemampuan manusia dan yang semakin merugikan adalah ketika semua ini berakhir menjadi sebuah bencana alam yang harus dialami oleh manusia.

Bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan dan gunung meletus, pada dasarnya dapat terjadi secara alamiah atau karena ulah manusia. Secara umum, Sukmana (2003) menyebutkan kerusakan karena faktor internal akibat kondisi alam sendiri yang sulit dicegah karena merupakan proses alami yang terjadi pada alam untuk mencari keseimbangan dirinya.
Mengubah Lingkungan Manusia sering mengubah lingkungan untuk kenyamanan dan kemudahan hidupnya akan tetapi pada akhirnya justru berbalik menjadi bencana. Ketika manusia tidak mampu dan tidak sanggup memperbaiki alam sekitarnya dan pemerintah juga belum mampu melakukannya dalam jangka waktu yang pendek, dapat dipastikan bencana akan menjadi suatu peristiwa yang berulang, sehingga sering kali muncul istilah banjir kiriman, banjir tahunan, longsor musiman di musim hujan dan sebagainya.

Salah satu teori psikologi lingkungan yang didasarkan atas pandangan ekologis adalah behaviour-setting (setting perilaku) yang dipelopori oleh Robert Barker dan Alan Wicker. Premis utama teori ini, organism environmnet fit model, adalah kesesuaian antara rancangan lingkungan dengan perilaku yang diakomodasikan dalam lingkungan tersebut.

Karena itu dimungkinkan ada pola-pola perilaku yang telah tersusun atau disebut dengan ‘’program’’ yang dikaitkan dengan setting tempat.

Artinya masyarakat yang tinggal di Desa Rahtawu dengan kontur pegunungan yang berbukit-bukit bisa lebih mengetahui dan memahami kondisi alam sekitar sehingga seharusnya bisa memprediksi potensi-potensi daerah-daerah mana saja yang rawan longsor dan mempersiapkan diri jika terjadi longsor. Jika perlu membangun rumah mengikuti kondisi alam.

Desa Rahtawu yang secara administrasi masuk dalam Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus dengan jumlah penduduk 4.765 orang. Desa ini minim fasilitas transportasi. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh tani (2.950), buruh lain atau swasta (395), pegawai negeri (21), pedagang (26) dan montir (18).

Tingkat pendidikan masyarakat Rahtawu sangat rendah. Fakta penelitian sosial ekonomi pada 2005 menunjukkan ada 16 orang (80 persen) yang mengaku berpenghasilan kurang dari Rp 500.000 dan empat orang (2 persen) yang berpenghasilan Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000.

Untuk sampai pada perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan, terlebih dulu kita harus memperbaiki sikap, dalam hal ini dimulai dengan mengubah cara pandang kita terhadap alam yang tentunya sangat berhubungan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, bukankah biasanya dengan alasan ‘’masalah perut’’ kita acapkali menjadi tidak peduli dengan lingkungan di sekitar kita.

Data penelitian juga menyebutkan pelaku perusakan kawasan hutan Muria di Desa Kendala mengubah perilaku tahunan disebabkan nyaris seluruh tanah di atas gunung saat ini statusnya telah menjadi hak milik warga, pemerintah desa merasa inferior, tidak memiliki hak melarang si empunya tanah untuk mengolah tanahnya sendiri, menanam tanaman semusim seperti jagung.

Untuk mengurangi bencana di Desa Rahtawu diperlukan mitigasi bencana berbasis masyarakat artinya masyarakat desa disiapkan untuk selalu berjaga-jaga bahkan dikondisikan untuk selalu siap dan beradaptasi dengan kondisi rawan bencana termasuk kesiapan dan tindakan pengurangan risiko bencananya.

Dimulai dari pertemuan antardukuh dalam satu desa dengan melibatkan para pihak: aparat desa, tokoh desa, agamawan, pemuda, remaja termasuk kalangan perempuan.

Berkoordinasi tiap dukuh, membuat peta rawan bencana versi masyarakat, papan-papan pengumuman tempat rawan bencana di tempat umum, balai desa untuk sosialisasi dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat setempat (baca: bahasa lokal, Jawa) sampai pada penyiapan secara swadana di tiap rumah dengan iuran sukarela berjangka panjang yang dikelola oleh pemerintah desa.

Prediksi ke depan jika ada bencana longsor maka pihak pemerintah desa bisa dengan segera untuk melakukan bantuan secara sosial atau berupa logostik bahan-bahan pangan untuk korban rentan, yaitu orang sepuh dan anak-anak. Kelompok peduli seperti pekerja sosial dari pemerintah atau non pemerintah hendaknya hanya sebagai fasilitator, begitu juga dengan kalangan akademisi.

Adanya kesiapan ini sangat bagus jika didukung oleh pihak pemerintah kabupaten yang sering kali lambat untuk merespons. Saatnya masyarakat melakukan mitigasi bencana secara mandiri. (35)

Mochamad Widjanarko, peneliti di Muria Research Center (MRC) Indonesia

di muat di Wacana lokal Suara Merdeka, 17 Maret 2009

0 komentar: